Carilah cinta yang sejati, yang ada hanya pada-Nya.
Carilah cinta yang hakiki, yang hanya ada pada-Na yang Esa.
Carilah cinta yang abadi, yang ada hanya pada-Nya.
Carilah kasih yang kekal selamanya, yang ada hanya pada Tuhanmu
(Raihan ; Carilah Cinta.)
Alkisah zaman dahulu kala di negeri para filosof di sebuah padang rumput yang luas terjadi sebuah dialog yang sangat indah antara seorang pemuda dengan seorang filosof, dimana pemuda tersebut mengajukan beberapa persoalan tentang cinta kepada sang filosof. Berikut kutipan dialog antara keduanya.
Pemuda : Wahai sang filosof bisahkah anda memberitahukan kepada saya apa itu cinta ?
Filosof : Cinta adalah suatu perasaan yang niscaya ada pada manusia tetapi, perlu diketahui bahwa rasa pada manusia akan diperhadapkan kepada dua pilihan rasa yang sangat kontradiksi yakni rasa cinta itu sendiri dan rasa benci, sehingga kehadiran cinta akan meniscayahkan hilangnya benci dan sebaliknya hadirnya benci meniscayahkan hilangnya cinta, ibarat hadirnya gelap meniscayahkan hilangnya terang dan begitu pula sebaliknya hadirnya terang meniscayahkan hilangnya gelap, dan seterusnya.
Pemuda : Wahai sang filosof kalau begitu adanya, bisahkah anda memberitahukan kepada saya apa yang menjadi prasyarat hadirnya cinta pada seseorang ?
Filosof : Cinta hadir karena adanya karena kesempurnaan yang kita dapati pada apa yang kita cintai dimana kita tidak mungkin mancintai sesuatu yang tidak sempurna, sehingga rasa cinta bisa kepada orang tua, taman, sahabat, nenek, nabi, dewa dan apa saja yang kita merasa, memikirkan, mencermati dan seterusnya bahwa ada kesempurnaan pada sesuatu tersebutr.
Pemuda : Wahai sang filosof kalau begitu tunjukan kepada saya tentang konsep manusia sempurna ?
Filosof : Baiklah secara global, berbagai macam padangan mengenai manusia sempurna atau insan kamil dapat diringkas dan disimpulkan dalam beberapa pandangan pokok, antara lain;
1. Pahaman Akal.
Yang melihat keutamaan manusia dari segi akalnya lebih dari segi-segi yang lain dan berkeyakinan bahwa hal yang paling istimewa pada diri manusia yang sekaligus menjadikan manusia sebagai manusia adalah akalnya. Yang dimaksud dengan akal disini adalah kekuatan untuk berfikir dan bernalar.
Filosof-filosof Yunani tedahulu dan juga sebagian dari filosof-filosof Islam seperti Abu Ali Sina termasuk diantara mereka yang berpandangan demikian. Mereka berkeyakinan bahwa insan kamil adalah manusia yang hakim (berakal dan bijaksana) dan kesempurnaanya terletak pada kesempurnaan hikmah atau akalnya.
2. Pahaman Isyq.
Pahaman isyq atau irfan ini menyatakan bahwa kesempurnaan manusia terletak pada isyq atau cintanya pada Allah SWT dan kemana isyq ilahi itu menbawanya. Penganut paham isyq sama sekali tidak meyakini akal, nalar ataupun argumentasi rasional. Mereka hanya meyakini kekuatan ruh manusia. Menurut mereka, ruh manusia benar-benar bergerak secara ghaib menuju suatu tempat dimana manusia akan sampai pada Tuhannya.
Kaum isyq menyatakan bahwa akal saja tidak cukup untuk membawa manusia menuju kesempurnaan. Akal hanya merupakan suatu bagian dari keseluruhan wujud manusia. Akal bersifat parsial, bukan universal. Akal tak ubahnya seperti mata, yang hanya berperan sebagai sebuah indera dari indera yang lain. Nilai dan esensi manusia adalah ruhnya. Ruh merupakan jauhar yang datang dari alam isyq dan tidak bergerak kemanapun kecuali menuju Allah SWT.
3. Paham Qudrat (kekuasaan).
Paham Qudrat, yang tidak bersandar baik pada akal maupun pada isyq, akan tetapi pada kekuasaan. Manusia sempurna atau insan kamil, menurut pahaman ini adalah manusia yang berkuasa, dan kesempurnaan terletak pada kekuasaan yang juga berarti kakuatan.
Pada masa Yunani kuno terdapat suatu golongan yang dikenal dengan sebutan kaum “sophis”. Mereka ini dengan lantang mengatakan bahwa ke-berha-kan dan kebenaran adalah kekuatan dan kakuasaan. Dimana ada kakuasaan, di sana ada kebenaran dan sebaliknya, dimana ada kebenaran , disana pasti ada kekuasaan. Menurut mereka, kebenaran pada dasarnya adalah kekuasaan itu sendiri, sedangkan kelemahan sama dengan ketidak benaran dan ketidak berhakan. Mereka berkayakinan bahwa manusia harus memusatkan seluruh daya upayanya untuk mendapatkan kekuatan dan kekuasaan serta tidak boleh membatasi dirinya dengan apapun untuk meraih kekuasaan tersebut.
4. Pahaman Kelemahan.
Sebagai mana pahaman akal berlawana dengan pahaman isyq, pahaman kelemahan juga berlawanan dan menolak paham kekuasaan. Sebagian orang berlebihan melecehkan paham kekuasaan dan hanya melihat bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kelemahanya. Menurut golongan ini, manusia sempurna adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Jika seseorang memiliki kekuatan dan kekuasaan ia akan terdorong untuk berbuat hal-hal melampai batas dan merugikan orang lain demi kepentingan pribadinya.
5. Pahaman Mahabba.
Paham lain yang juga mengemukakan pandangannya tetang insan kamil adalah paham mahabba atau pahaman ma”rifah, dalam arti “ ma”rifat al-nafs”. Dalam paham ini ditegaskan bahwa semua nilai kesempurnaan manusia terdapat pada dirinya sendiri. Paham ini menyatakan: “ketahuilah siapa sebenarnya dirimu. Singkaplah sermua rahasia yang masih tersembunyi tentang dirimu, niscaya kau akan mencapai kesempurnaan.
Menurut pahaman ini, insan kamil adal;ah manusia yang telah mengetahui jati dirinya. Jika seseorang telah mengetahui jati dirinya, maka ia akan dapat menguasainya. Dan jika ia mampu menguasai dirinya, maka ia akan dapat mencintai sesamanya.
6. Dua Aliran Lain.
Pada dua atau tiga abad terakir ini telah muncul dua aliran yang lebih cenderung pada segi sosial ketimbang segi individual. Salah satu dari keduanya menyatakan bahwa insan kamil adalah manusia tanpa kasta. Aliran ini menyakini bahwa jika sekelompok manusia berada pada kasta tertentu, khususnya kasta-kasta tinggi, maka mereka selalu akan menjadi manusia yang tercela. Bahkan dalam masyarakat yang berkasta, sama sekali tidak akan pernah ditemukan manusia yang baik dan sempurna. Aliran ini pada dasarnya tidak begitu meyakini keberadaan manusia yang sempurna dan ideal, karena aliran ini memang tidak pernah mmberi nilai tinggi pada manusia itu sendiri.
Alhasil, menurut paham ini insan kamil adalah manusia yang tak berkasta dan selalu hidup dengan sesamanya pada sesuatu tingkatan yang sama.
Adapun paham yang satu lagi lebih banytak menekankan pada masalah kebebasan dan kesadaran (sosial). Paham yang dikenal dengan nama eksistensialisme ini memang lebih banyak bersandar pada kebebasan, kesadaran dan tanggung jawab sosial. Insan kamil ialah manusia yang bebas, sadar dan bertanggungjawab.
7. Paham Keterpenuhan.
Paham ini memiliki kemiripan dengan paham kekuasaan. Menurut paham ini istilah insan kamil yang mengacu pada manusia yang bijaksana, mengenal siapa Tuhanya, mengetahui jati diri dan seterusnya, hanyalah omong kosong belaka. Satu-satunya jalan untuk mencapai kesempurnaan insani ialah dengan berusaha memenuhi semua kebutuhan, keperluan, dan fasilitas hidup. Sejahu kemampuan seseorang dapat memanfaatkan pemberian-pemberian alam, maka sejahu itu pula ia akan menyandang kesempurnaan dalam hidup ini. Insan kamil adalah manusia yang terpenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Pemuda : wahai sang filosof kalau begitu, bagai mana Islam melihat tentang konsep manusia semppurna ?
Filosof : sebagi garis besar, perlu kita ketahui betapa Islam sangat menghargai dan memberikan nilai cukuptinggi kepada (yang mereka sebut dengan ) akal, isyq, kakuasaan, masyarakat tanpa kelas, ma”rifatun al-nafs, tanggu jawab sosial dan seterusnya. Secara sederhana Islam menyebut manusia sempurna dengan istilah Ulil Albab yang disewbut sebanyak enam belas kali dalam Al-Qur-an. Adapun perincian karesteristik tersebut adalah:
1. bersungguh-sungguh mencari ilmu (Q.S. 3:7), sehingga memperoloh hikmah atas anugerah Allah (Q.S. 2:269). Ini ditandai dengan kesenangan menafakuri ciptaan Allah di langit dan dibumi (Q.S. 3:190, dan 39:21), maupun pelajaran dari sejarah (Q.S. 12:111, dan 38:43)dan kitab-kitab yang diwahyukan oleh Allah (Q.S. 38:29, dan 40:54).
2. Kritis dalam mencermati berbagai pendapat, maupun memilih yang benar dan terbaik (Q.S. 39:18), tegas dalam mengambil sikap dan pemihakan atas pilihanya (Q.S. 2: 173), serta tidak terpesona oleh pandangan mayoritas yang menyesatkan (Q.S. 5:100).
3. Berdakwah dengan sungguh-sungguh kepada masyarakat dan bersedia menanggu segala resikonya (Q.S. 13: 19-22 dan 14: 52). Terutama sewkali ditandai dengan kesediaan menyampaikan peringatan kapada masyarakat serta mengajarkan ilmu.
4. Hanya takut kepada Allah (Q.S. 2: 197 dan 65:10).
5. bangun dan beribadat di tengah malam (Q.S. 39: 9).
Pemuda : Wahai sang filosof ,didunia ini ada berapa aktivitas manusia dan cinta termasuk pada aktivitas yang mana.?
Filosof : Aktivitas pada manusia ada dua yaitu aktivitas menyenangkan dan aktyivitas politik, dimana aktivitas menyenagkan adalah aktivitas yang dilakukan hanya demi kepuasan tanpa pertimbangan akal yang matang , misalnya seseorang akan tetap mengkonsumsi es batu atau air es demi kepuasaanya walaupun sudah dilarang oleh dokter karena penyakitnya, sedangkan aktivitas politik adalah aktivitas yang dilakukan karena sudah melalui pertimbangan akal yang matang apakah sesuatu itu baik dilakukan atau tidak, misalnya seseorang tidak mungkin mengkonsumsi es batu atau air es karena penyakitnya meskipun dia sangat menginginkanya.
Dan cinta termasuk dalam aktivitas politik, dimana kita mencintai sesutu bukan karena kesengangan, nafsu, materi,tetapi karena melalui pertimbangan akal yang sangat, tentunya kita akan melihat sesuatu itu sempurna untuk dicintai atau tidak.
Refleksi Penutup.
Serasa belum sempurna tulisan yang dihadirkan ini, namun setidaknya dapat ditarik benang merah guna merakit wacana cinta yang labih luas lagi dan lebih rasional sehingga kita dapat melakoni dunia cinta dengan rasional dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai predikat kita yakni insan akademis. Wasalam.
andi suhardiman ibnu hasyim :