Sabtu, 11 Agustus 2012

5 menit

lima menit pertama ;

jalanan mulai berembun setelah tersiram berkah dari atas... masih sejuk bahkan semakin sejuk semenjak aku mulai dengan anagan dingin ku akan masa lalu ku



lima menit kedua :

anak2 mulai dengan sepeda BMX nya masing2, bak ofroder handal mereka membuat sejuk setelah hujan menjadi hiruk pikuk seru ala mereka dengan suara menderu kenalpot mulut mereka yang meraung, membahana memecah langit yang masih ingin muntah lagi....



lima menit ketiga :

aku mulai asyik dengan rokok gilingan yang ku beli satu ons di warung depan rumah, mulai asyik dengan kopi tubruk yang ku racik sendiri yang juga ku beli di warung depan rumah, suasana yang membuat kita kembali kemasa lima menit di tahun-tahun yang berlalu ketika kita seusia mereka, dengan pekik yang hampir serupa dengan kaki telanjang bersepak bola bak bintang sekelas toty masa seri A italia masih seru...di masa lima menit itu



lima menit ke empat:

lima menit terus berlalu, dengan suara bocah2 ofroder tetap meraung, dengan rokok dan kopi ku yang mulai sejuk meningalkan kehangatan di bibir hitam ku yang mulai memucat, menua dengan aktivitas yang tak mungkin ku lakukan seperti yang ku ingat dari menit ke tiga lalu



lima menit ke lima :

air-air mulai kembali tumpah ke bumi setelah lima menit, lima menit berlalu dengan riuh antara aku dan mereka yang masih bersua dengan genangan air yang mulai melumpur oleh aksi bocah -bocah riang. ada suara sholawat bergema dari mulut raksasa di sebelau rumah ku, dari gedung beratap limas dengan lima corong yang kubilang mulut raksasa, seperti gema yang selalu di pekikan untuk sang perkasa sejati. hari ini hari terakhir tahun ini tahun yang banyak tidak di kenal oleh mereka yang merasa beriman, malam ini malam pergantian tahun yang ku kenal setelah 1431berlalu, besok tahun ke 1432 untuk tahun yang baru. aku hanya bisa berucap dan berharap agar 5 menit dari sekarang dan yang akan datang, "aku mendapat berkah yang berlimpah, serta rahmat yang tidak pernah putus dari dia sang pemilik nama yang sering ku dengar dari bangunan beratap limas, bercorong besar yang mengeluarkan suara2 yang Agung, aku berharap kalian juga begitu...



lima menit berikutnya :

air suci mulai membasuh muka dengan gerakan yang monoton yang di ajarkan abah ku lima menit beberapa tahun lalu yang tetap ku ingat sampai sekarang sebelu aku dan keluarga berdiri berjejer di belakang abah, yang berdiri mematung dengan gerakan yang monoton pula, kata abah kita : bersua dengan Tuhan kita hanya dengan lima menit...untuk lima waktu yang telah di wajibkan untuk ku yang harus ku sampai kan untuk kalian dan berlanjut pada lima menit untuk anak-anak mu kelak. lima menit untuk hidup mu yang memang lima menit...abah ku memang seorang yang memegang lima menitnya untuk lima waktunya.... amin

dear my pink

kamu tidak peduli dengan kondisi ku setiapku ingin melelapkan mata,entah aku  melupakan apa yang terjadi barusan atau  apapun  yang akan terjadi nantiterhadap ku, kau begitu setia di setiap mata ku ingin menutup diri, yang kamu tau hanya melindungi ku, menjagaku, bahkan kamu tidak peduli harus berapa lama kau mendekapku dan untuk apa semua ini.
kisah ku dan diri mu bermula di kala aku ingin melelapkan sadar ku kealam mimpi-mimpi ku, yang memang semenjak aku ada di dunia, ibu sudah mengenalkan mu, sekarang aku sangat membutuhkan mu merindukan mu, dan kamu juga sangat merindukan ku untuk bercengkrama dengan mu lagi, kau begitu setia bahkan sangat setia dari mereka yang selalu mengucap kata itu ditelinga ku, kau hanya diam dengan kesetiaan mu, walau kau terkadang terliahat sangat rapuh, tapi selalu ada sikap setia untuk ku.
kau juga selalu hadir dalam setiap warna-warna yang selalu berbeda, tapi aku sangat menyukai warna mu yang pink, lembut, eksotik, feminim, walau terkadang aku setengah mati malu untuk mengakui bahwa kau milik ku seutuhnya, ya aku memilki mu apa pun kondisimu bahkan disaat aku muak untuk didekap saat sendu mata ku datang disadar dan ketidak sadaran ku.
kini setiap malam ku kau tidak pernah mendekapku kembali, seperti malam di tahun-tahun lalu
aku minta maaf telah mengabaikan mu selalama ini, maaf kan aku ya kelambu pink ku..he, aku sakit nie

dear , my pink

intelektual organik

Menurut model kuntowijoyo, dalam masyarakat kita ada beberapa klasifikasi kelompok masyarakat, yaitu : militer, bisnis, politisi, birokrasi dan intelektual.
Militer, Sistem pengetahuan mulilter, setidaknya berada pada dua hal yaitu disiplin dan konsensus. Disiplin menjadikan militer organisasi yang paling solid. Reference group yang solid itu berdampak pada self comfidence yang tinggi, sehingga kalau tidak hati-hati bisa jatuh pada disiplin yang kaku dan otoriter. Sementara konsensus sangat dipengaruhi oleh fenomena sejarah politik. Ketika dalam situasi revolusi, maka konsensus, baik vertical maupun horizontal adalah sesuatu yang dirasa perlu untuk dilakukan..
Bisnis,Kelompok masyarakat ini punya paradigma dan ideologi utilitarianistik, sehingga mereka tidak terlalu peduli sebuah model pemerintahan seperti apa yang sedang berjalan. Yang mereka pedulikan adalah apakah pemerintahan itu menguntungkan atau tidak dalam kacamata bisnis? Jadi agak musykil mengharapkan mereka menjadi reformer transformative bagi sebuah sistem yang demokratis, sebab mereka akan mendukung gagasan ini, jikalau menguntungkan proyek mereka. Kelompok ini kita sebut saha englightened self interest..
Politisi.The art of the possible adalah mindset kelompok ini. Bagi mereka collective interest lebih dominan ketimbang kebenaran, fakta, dan kadang-kadang mereka lebih memilih dikerangkeng dalam apa yang disebut “disiplin partai” dari pada memilih kesadaran, nurani. Obsesi mereka adalah kekuasaan.
Birokrat. Hirarki adalah jaringan yang bisa memerangkap kelompok ini dalam garis komando yang menuntut mono loyalitas seperti dalam militer. Selain itu juga kultur feodalistik masih mewarnai pola pikir mereka, maka bureauncratie curuption akan menjadi pelaku yang menggerogoti massa.
Intelektual. Mereka berumah diatas angin, kata W.S Rendra. Komitmen pada masa depan mengharuskan mereka bekerja dalam sepi, menjadi “Pertapa”, kata Kuntowijoyo. Intelektual merupakan lapis menengah yang relatif independen, dan visinya adalah concerned citizen. Tetapi ada intelektual yang menjadi teknisi dari elit kekuasaan, elit bisnis, atau sebuah OPP:mereka bukan intelektual tetapi avountourir. Jadi mungkinkah intelektual yang “berumah diatas angin”, yang bekerja dalam sepi laksana “pertapa” seperti yang disebutkan oleh W.S Rendra dan Kuntowijoyo diatas, menjadi reformer transformative? Rasanya ini terlalu elitis, kita butuh intelektual populis yang tidak detachment (berjarak) dengan realitas rakyat.
Maka untuk itu kita perlu menyimak apa yang diujarkan Antonio Gramsci, sebagaimana dikutip oleh Roger Simon:

“…kesalahan-kesalahan intelektual terdapat dalam keyakinan bahwa adalah mungkin untuk mengetahui tanpa pemahaman dan khususnya tanpa perasaan dan keinginan (passion)…

 Bahwa intelektual dapat menjadi seorang intelektual ..Jika ia berbeda dan melepaskan diri dari masyarakat – bangsa (popolo – nazione) tanpa perlu merasakan keinginan dasariah rakyat, memahami dan menghempaskannya dalam situasi histories tertentu , menghubungkannya secara dialektis dengan hukum-hukum sejarah, dengan konsep besar dunia… Sejarah dan politik tidak bisa diciptakan tanpa keinginan, tanpa keterikatan emosional antara intelektual dan masyarakat – bangsa hanya akan menjadi hubungan yang murni bersifat birokratis formal;intelektual akan menjadi sebuah kasta atau kependetaan…

Dan ketika rakyat semakin tercerahkan, maka Negara akan semakin demokratis dan terhindar dari kuasa Hegemonik., oleh Gramsci. Dari sinilah harapan kita akan sebuah peradaban yang disebut sivil society bisa diwujudkan. Gerakan pendidikan kritis ditingkat grassroot akan memungkinkan menjadikan masyarakat memiliki kesadaran akan hak-hak politiknya. Sehingga dalam proses bernegara rakyat tidak lagi menjadi obyek akan tetapi merupakan subyek perubahan.Oleh karena itu kita butuh intelektual yang memiliki keterlibatan langsung dengan realitas social, yang punya fungsi social, dan secara sadar terlibat dalam proses penyadaran dan pendampingan (advokasi) problem masyarakat. Inilah yang disebut

Jadi untuk untuk menciptakan political balances, maka pendidikan kritis bagi rakyat adalah key word yang menjadi keniscayaan.

BATAS


segala keterbatasan,di batas negara ini

kami akui itu,
kami sadari itu,
kami dari keterpencilan, nun jauh…
kami mengabdi padanya,
bukan tempat vaforit,
bukan tempat eksklusif,
bukan tempat termegah,
bukan tempat yang mahal,
tapi…
tetap harus berbuat,
sekecil apapun,
serendah apapun,
sebisa apapun,
tak perlu disanjung orang,
tak perlu dihormat orang,
tetap berkreasi,
terserah yang lain… peduli atau tidak!