Menurut
model kuntowijoyo, dalam masyarakat kita ada beberapa klasifikasi
kelompok masyarakat, yaitu : militer, bisnis, politisi, birokrasi dan
intelektual.
Militer, Sistem pengetahuan mulilter, setidaknya berada pada dua hal yaitu disiplin dan konsensus. Disiplin menjadikan militer organisasi yang paling solid. Reference group yang solid itu berdampak pada self comfidence yang tinggi, sehingga kalau tidak hati-hati bisa jatuh pada disiplin yang kaku dan otoriter. Sementara konsensus sangat dipengaruhi oleh fenomena sejarah politik. Ketika dalam situasi revolusi, maka konsensus, baik vertical maupun horizontal adalah sesuatu yang dirasa perlu untuk dilakukan..
Bisnis,Kelompok masyarakat ini punya paradigma dan ideologi utilitarianistik, sehingga mereka tidak terlalu peduli sebuah model pemerintahan seperti apa yang sedang berjalan. Yang mereka pedulikan adalah apakah pemerintahan itu menguntungkan atau tidak dalam kacamata bisnis? Jadi agak musykil mengharapkan mereka menjadi reformer transformative bagi sebuah sistem yang demokratis, sebab mereka akan mendukung gagasan ini, jikalau menguntungkan proyek mereka. Kelompok ini kita sebut saha englightened self interest..
Politisi.The art of the possible adalah mindset kelompok ini. Bagi mereka collective interest lebih dominan ketimbang kebenaran, fakta, dan kadang-kadang mereka lebih memilih dikerangkeng dalam apa yang disebut “disiplin partai” dari pada memilih kesadaran, nurani. Obsesi mereka adalah kekuasaan.
Birokrat. Hirarki adalah jaringan yang bisa memerangkap kelompok ini dalam garis komando yang menuntut mono loyalitas seperti dalam militer. Selain itu juga kultur feodalistik masih mewarnai pola pikir mereka, maka bureauncratie curuption akan menjadi pelaku yang menggerogoti massa.
Intelektual. Mereka berumah diatas angin, kata W.S Rendra. Komitmen pada masa depan mengharuskan mereka bekerja dalam sepi, menjadi “Pertapa”, kata Kuntowijoyo. Intelektual merupakan lapis menengah yang relatif independen, dan visinya adalah concerned citizen. Tetapi ada intelektual yang menjadi teknisi dari elit kekuasaan, elit bisnis, atau sebuah OPP:mereka bukan intelektual tetapi avountourir. Jadi mungkinkah intelektual yang “berumah diatas angin”, yang bekerja dalam sepi laksana “pertapa” seperti yang disebutkan oleh W.S Rendra dan Kuntowijoyo diatas, menjadi reformer transformative? Rasanya ini terlalu elitis, kita butuh intelektual populis yang tidak detachment (berjarak) dengan realitas rakyat.
Maka untuk itu kita perlu menyimak apa yang diujarkan Antonio Gramsci, sebagaimana dikutip oleh Roger Simon:
“…kesalahan-kesalahan intelektual terdapat dalam keyakinan bahwa adalah mungkin untuk mengetahui tanpa pemahaman dan khususnya tanpa perasaan dan keinginan (passion)…
Bahwa intelektual dapat menjadi seorang intelektual ..Jika ia berbeda dan melepaskan diri dari masyarakat – bangsa (popolo – nazione) tanpa perlu merasakan keinginan dasariah rakyat, memahami dan menghempaskannya dalam situasi histories tertentu , menghubungkannya secara dialektis dengan hukum-hukum sejarah, dengan konsep besar dunia… Sejarah dan politik tidak bisa diciptakan tanpa keinginan, tanpa keterikatan emosional antara intelektual dan masyarakat – bangsa hanya akan menjadi hubungan yang murni bersifat birokratis formal;intelektual akan menjadi sebuah kasta atau kependetaan…
Dan ketika rakyat semakin tercerahkan, maka Negara akan semakin demokratis dan terhindar dari kuasa Hegemonik., oleh Gramsci. Dari sinilah harapan kita akan sebuah peradaban yang disebut sivil society bisa diwujudkan. Gerakan pendidikan kritis ditingkat grassroot akan memungkinkan menjadikan masyarakat memiliki kesadaran akan hak-hak politiknya. Sehingga dalam proses bernegara rakyat tidak lagi menjadi obyek akan tetapi merupakan subyek perubahan.Oleh karena itu kita butuh intelektual yang memiliki keterlibatan langsung dengan realitas social, yang punya fungsi social, dan secara sadar terlibat dalam proses penyadaran dan pendampingan (advokasi) problem masyarakat. Inilah yang disebut
Jadi untuk untuk menciptakan political balances, maka pendidikan kritis bagi rakyat adalah key word yang menjadi keniscayaan.
Militer, Sistem pengetahuan mulilter, setidaknya berada pada dua hal yaitu disiplin dan konsensus. Disiplin menjadikan militer organisasi yang paling solid. Reference group yang solid itu berdampak pada self comfidence yang tinggi, sehingga kalau tidak hati-hati bisa jatuh pada disiplin yang kaku dan otoriter. Sementara konsensus sangat dipengaruhi oleh fenomena sejarah politik. Ketika dalam situasi revolusi, maka konsensus, baik vertical maupun horizontal adalah sesuatu yang dirasa perlu untuk dilakukan..
Bisnis,Kelompok masyarakat ini punya paradigma dan ideologi utilitarianistik, sehingga mereka tidak terlalu peduli sebuah model pemerintahan seperti apa yang sedang berjalan. Yang mereka pedulikan adalah apakah pemerintahan itu menguntungkan atau tidak dalam kacamata bisnis? Jadi agak musykil mengharapkan mereka menjadi reformer transformative bagi sebuah sistem yang demokratis, sebab mereka akan mendukung gagasan ini, jikalau menguntungkan proyek mereka. Kelompok ini kita sebut saha englightened self interest..
Politisi.The art of the possible adalah mindset kelompok ini. Bagi mereka collective interest lebih dominan ketimbang kebenaran, fakta, dan kadang-kadang mereka lebih memilih dikerangkeng dalam apa yang disebut “disiplin partai” dari pada memilih kesadaran, nurani. Obsesi mereka adalah kekuasaan.
Birokrat. Hirarki adalah jaringan yang bisa memerangkap kelompok ini dalam garis komando yang menuntut mono loyalitas seperti dalam militer. Selain itu juga kultur feodalistik masih mewarnai pola pikir mereka, maka bureauncratie curuption akan menjadi pelaku yang menggerogoti massa.
Intelektual. Mereka berumah diatas angin, kata W.S Rendra. Komitmen pada masa depan mengharuskan mereka bekerja dalam sepi, menjadi “Pertapa”, kata Kuntowijoyo. Intelektual merupakan lapis menengah yang relatif independen, dan visinya adalah concerned citizen. Tetapi ada intelektual yang menjadi teknisi dari elit kekuasaan, elit bisnis, atau sebuah OPP:mereka bukan intelektual tetapi avountourir. Jadi mungkinkah intelektual yang “berumah diatas angin”, yang bekerja dalam sepi laksana “pertapa” seperti yang disebutkan oleh W.S Rendra dan Kuntowijoyo diatas, menjadi reformer transformative? Rasanya ini terlalu elitis, kita butuh intelektual populis yang tidak detachment (berjarak) dengan realitas rakyat.
Maka untuk itu kita perlu menyimak apa yang diujarkan Antonio Gramsci, sebagaimana dikutip oleh Roger Simon:
“…kesalahan-kesalahan intelektual terdapat dalam keyakinan bahwa adalah mungkin untuk mengetahui tanpa pemahaman dan khususnya tanpa perasaan dan keinginan (passion)…
Bahwa intelektual dapat menjadi seorang intelektual ..Jika ia berbeda dan melepaskan diri dari masyarakat – bangsa (popolo – nazione) tanpa perlu merasakan keinginan dasariah rakyat, memahami dan menghempaskannya dalam situasi histories tertentu , menghubungkannya secara dialektis dengan hukum-hukum sejarah, dengan konsep besar dunia… Sejarah dan politik tidak bisa diciptakan tanpa keinginan, tanpa keterikatan emosional antara intelektual dan masyarakat – bangsa hanya akan menjadi hubungan yang murni bersifat birokratis formal;intelektual akan menjadi sebuah kasta atau kependetaan…
Dan ketika rakyat semakin tercerahkan, maka Negara akan semakin demokratis dan terhindar dari kuasa Hegemonik., oleh Gramsci. Dari sinilah harapan kita akan sebuah peradaban yang disebut sivil society bisa diwujudkan. Gerakan pendidikan kritis ditingkat grassroot akan memungkinkan menjadikan masyarakat memiliki kesadaran akan hak-hak politiknya. Sehingga dalam proses bernegara rakyat tidak lagi menjadi obyek akan tetapi merupakan subyek perubahan.Oleh karena itu kita butuh intelektual yang memiliki keterlibatan langsung dengan realitas social, yang punya fungsi social, dan secara sadar terlibat dalam proses penyadaran dan pendampingan (advokasi) problem masyarakat. Inilah yang disebut
Jadi untuk untuk menciptakan political balances, maka pendidikan kritis bagi rakyat adalah key word yang menjadi keniscayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar