Senin, 15 Agustus 2011

gara2 tulisan seorang cerpenis,dan gara2 chating dengan anak geologi

membaca sebuah catatan di sebuah facebook seorang penulis yang aku kenal, membuat aku menjadi manusia paling kerdil, makasih ya facebook kau telah membantu ku, belakangan ini ternyata aku telah lupa dengan kata-kata yang juga sering ku dengar, yang kata-kata tersebut menjadi motivasi yang begitu berharga buat kehidupan dan juga buat mereka percaya dan sering menyebutkannya.

Namanya pay jarot sujarwo, aku di kenalkan oleh teman, seorang, penulis, cerpernis yang merupakan sahabat seorang teman, aku mengenal pay pada sebuah diskusi dan nama teman yang mengenalkan ku pada pay, adalah Amrin, ya amrin seorang cerpenis pula yang sekarang menjadi seorang guru di jantung Kalimantan, dan tetap setia menjadi cerpenis sama seperti sebelum menjadi seorang guru, dia tetap menulis, karena mungkin menulis menjadi monument paling abadi dalam kesejarahan manusia (kata pramudiya)

Tak penting mungkin kuceritakan bagai mana aku dan pay kenal yang di kenalkan oleh seorang amrin, yang ingin ku ceritakan sebenarnya adalah sebuah kata yang membuat ku malu karena tidak pernah mengubrisnya secara serius, tetang kata-kata tersebut dalam tulisan ini yang seharusnya menjadi sebuah lokomotif hidup ku yang semakin hari ku rasa hanya sekedar rutinitas manusia normal. Aku ingin abnormal seperti pay jarot yang tetap konsisten pada kesetian , ya kata-kata itu yang ku maksut’setia pada proses’. Seharus nya aku juga harus setia pada proses, agar hidup ku juga abnormal. Aku terlalu asyik dengan siklus hidup ku, hanya mengikuti alur waktu yang berjalan cepat, yang tidak mengindahkan de javu manusia.

38 menit berlalu aku asyik dengan catatan facebook Pay Jarot Sujarwo yang di beri judul Setia kepada proses di posting 28 Februari 2011, aku di kejutkan oleh chating dari seorang rekan yang juga mengenal pay jarot dan sahabatnya amrin, tampil dengan nama Bocah Lemoet facebook dia menyapa:

Bocah Lemoet : hmhh

aku serta mertamemberi layanan balasan ; ‘setia pada proses’ aku jawab sesuai dengan apa yang aku sedang baca saat itu, 36 menit yang lalu kembali datang dengan komentar darinya,

Bocah Lemoet ; hahahha..

kembali ku respon dalam obrolan dunia maya tersebut ‘itu kata pay jarot’, sembari memberi komentar tambahan, ‘sya suka dengan falsafah tersebut’

kembali boecah lemoet member respon,

Bocah Lemoet ; saya lebih suke setia pada siklus

Dan terjadilah diskusi seperti ini:

Ardi Bumi Trisula ; sya suka pada proses, siklus sye berada pada level anjlok

Bocah Lemoet ; itulah siklus,,kadang turun kadang naik,,kadang atas,,kadang di bawah.

Ardi Bumi Trisula ; sya mau setia pada proses, biar tetap maju ,tidak mundur tidak juga kebawah,

Bocah Lemoet ; hahaha...silahkan memilih..Top of Form

Ardi Bumi Trisula ; bukan sekedar memilih , tapi aku mau u berkomentar kenapa kau suka pada siklus

Bocah Lemoet ; setia pada siklus kehidupan bang,,,setia pada detik2 ny,,,setia terhadap apa pun yang terjadi dan belum terjadi..



seperti magma yang kadang karena perubahan temperatur dan tekanan menjadi metamorf,,atau kadang menjadi sedimen,,lapukan,, beku...tapi akhirnya kembali ke magma juga...seperti air di serap panas,,,jadi uap,,,awan,,,hujan,,,akhirnya kembali ke air juga...

kita semua kembali ke titik asal kita kembali bang,,manusia dari tanah,,kembali ke tanah ke bumi. Sembari membaca tulisan pay jarot yang masih tersisa, aku kemudian membalas layan chating yang di tujukan pada ku oleh Bocah lemoet : ” aku percaya dengan siklus yang kau tampilkan secara ilmiah, aku tak banyak yau tentang siklus yang kau maksud tapi aku coba untuk mengerti apa yang kau jabarkan, tapi aku lebih memahami hidup ini hanya dalam tataran proses, tidak ada sejarah umat manusia yang pernah terjadi dua kali semuanya berjalan dengan putaran waktu yang terus berdentangaku percaya akan proses waktu. tapi tidak 100% percaya, karena waktu klo hanya di ikuti dengan melangkah saja rasanya cape, terkadang kita butuh kendaraan agar kita lebih memahami jarak tempuh, bukan hanya sekedar kecepatan dalam menempuh jarak dengan kendaraan yang kita naiki dalam sebuah perjalanan tapi juga kenikmatan yang lain kita bisa dapatkan..maksud ku kendaraan hidup adalah proses kita dalam menjalaninya ...apakah dengan pengetahuan pengalaman atau dengan pengetahuan yang kita dapatkan secara formal di akdemik dan juga dalam prosesnon akademis yang endingnya kita bisa lebih baik dario hari ini ”. itu pendapat ku….

Dan akhirnya aku menulis dan kuposting , dan aku ngantuk….aku tidur...makasih ya pacebook...makasih ya

Tidak ada komentar: