Perubahan sosial merupakan suatu keharusan sekaligus sebuah tuntutan bagi masyarakat Indonesia dewasa ini. Perubahan sosial ini menuntut reinterpretasi terhadap hukum nilai sosial. Hukum nilai sosial ini tidak dibuat semata-mata sebagai tradisi teks yang sifatnya sangat normatif namun terdapat tradisi lain yang berada diluar teks tersebut. Tradisi ini disebut tradisi konteks atau perubahan sosial. Untuk menjaga keseimbangan kedua tradisi tersebut dalam setiap perjalanan zaman perlu mendapat perubahan-perubahan, sehingga tercipta eksistensi dan reaktualisasi nilai teks dalam konteks tersebut.
Perubahan sosial menyangkut banyak hal. Pada dasarnya perubahan sosial meliputi perubahan-perubahan penting menyangkut struktur masyarakat (artinya pola-pola tindakan dan interaksi sosial), nilai-nilai hidup serta aneka produk dan simbol budaya baik yang berlangsung secara bertahap-mulus maupun penuh dengan kekerasan, serta banyak jenis perubahan lain dalam tata masyarakat.
Perubahan sosial yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan beberapa ketidakseimbangan kehidupan bagi masyarakat. Societal problems dan social problems, menjadi problematik yang bisa timbul. Kejutan kebudayaan (cultural syock) merupakan salah satu implikasi karena pergeseran yang signifikan bagi kehidupan mereka. Fenomena ini terjadi kerena belum meratanya pola pendidikan dan penyadaran seimbang terhadap mereka sehingga terkadang mereka melakukan kegiatan yang bisa membahayakan sistem sosial (baca : pemerintahan) dalam rangka memenuhi kebutuhannya atau dipenuhinya tuntutan mereka walaupun pada dataran teoritis apa yang mereka tuntut tidak signifikan dengan hukum perubahan sosial yang ada.
Pada konteks pemerintahan, terma perubahan sosial perlu untuk mendapatkan perhatian yang penuh. Harus dipahami bahwa birokrasi selain merupakan organisasi administratif negara yang berfungsi menjalankan tata pemerintahan, juga diharapkan mendorong proses demokratisasi dan pembangunan politik. Dengan kata lain birokrasi bukanlah semata mata persoalan administratif saja tetapi juga bersifat politis dan berkaitan dengan masalah kekuasaan.
Berjalan atau tidaknya suatu pemerintahan, sangat ditentukan bagaimana proses dialetika sosial yang mereka dapat jalankan. Bagaimana mereka membangun suatu pola atau metodologi interaksi dan integrasi sosial dengan masyarakatnya sehingga tujuan pemerintahan yaitu proses institualization (baca ; pelembagaan) dapat benar-benar maujud dengan segala komponen-komponennya. Masyarakat (lingkungan sosial) kemudian memberikan pengakuan tentang pemerintahan tersebut sehingga tercipta sinergitas antara pemerintah dengan rakyat. Pemerintah kemudian bisa menJalankan pemerintahan karena pemerintah mampu memberikan interpretasi terhadap realitas sosial sehingga program pemerintahan selau kontekstual sifatnya, dapat mengurangi reaksi negatif rakyat. Untuk membangun reaksi positif masyarakat terhadap pemerintah tidak terlepas dari peranan pemerintah untuk memberikan kegiatan penyadaran secara kritis kepada masyarakat bagaimana pemerintahan tersebut dijalankan sehingga posisi dialogis bisa menJadi (becoming).
Dalam lingkup pemerintahan perlu untuk memposisikan diri sebagai partner dialog dengan masyarakat, perlunya dihindari terjadinya hegemoni kekusaan terhadap rakyat di mana tercipta proses Bureauctatic Polity dimana kekuasaan dan partisipasi politik dalam pengambilan keputusan berda di tangan pemerintah sehingga terjadi pelebaran fungsi birokrasi dan menguatnya fungsi negara Vis a Vis masyarakat, menempatkan fungsi hegemonik pemerintah terhadap rakyat. Maka kepatuhan dan kesadaran yang muncul dari sini adalah kepatuhan naif. Dalam bahasa Paulo Freire sebagai kesadaran naif atau intransitif, dan bukan kesadaran kritis transformatif, sehingga sewaktu-waktu rakyat akan melakukan perlawanan secara frontal. Maka maraklah berbagai macam kekerasan terhadap pemerintah yang dilakukan oleh rakyat yang tidak terdasarkan secara kritis. Mereka melakukan apa saja untuk memenuhi tuntutan mereka, dan jika tidak diselesaikan dengan baik maka konflik yang mengarah kepada lahirnya kekerasan acapkali terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar