Senin, 15 Agustus 2011

Peta Sebagai Sebuah “Penulisan Sejarah”

Ada banyak pengertian atau defenisi peta yang lazim dikemukakan. Beberapa di antaranya menyebut bahwa peta adalah penggambaran atau penglukisan konvensional muka bumi yang menunjukkan letak tanah, sungai, gunung, laut, selat, teluk, tanjung, dan lain sebagainya; atau suatu representasi melalui gambar dari suatu daerah yang menyatakan sifat, seperti batas daerah, sifat permukaan, peruntukan lahan; atau suatu gambaran dan lukisan yang menyatakan letak sesuatu; atau denah sesuatu di muka bumi. Di samping itu, lazim dan bahkan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan, peta harus memiliki skala tertentu dan simbol-simbol tertentu. Peta berfungsi sebagai alat analisis, alat komunikasi, catatan visual permanen alat peraga dan media pembelajaran.
Perkembangan, pertumbuhan, penggunaan, pemakaian, dan penghargaan terhadap peta paralel dengan tingkat kebudayaan masyarakat pendukungnya. Masyarakat dengan tingkat kebudayaan yang bersahaja memiliki peta yang sederhana. Sebaliknya masyarakat dengan tingkat kebudayaan yang maju memiliki peta yang kompleks. Hal sama juga berlaku pada penggunaan, pemakaian dan penghargaan terhadap peta. Tingkat penggunaan, pemakaian dan penghargaan terhadap peta pada masyarakat dengan kebudayaan yang maju jauh lebih sering, sungguh-sungguh dan tinggi bila dibandingkan dengan masyarakat dengan kebudayaan yang lebih bersahaja.
Peta adalah produk kebudayaan. Sebagai produk kebudayaan, peta adalah sesuatu yang dinamis. Senantiasa ada perubahan terhadap bentuk, format dan kualitas peta. Teknologi dan hasil pembuatannya terkait erat dengan perkembangan unsur teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada dalam unsur-unsur kebudayaan masyarakat pembuatnya. Semakin tinggi kebudayaan (khususnya unsur teknologi dan ilmu pengetahuan) masyarakat pembuatnya semakin canggih teknologi pembuatan peta, semakin detil lukisan yang disajikan, serta semakin beragam wujud, bentuk dan corak peta yang diproduksi.
Masyarakat Babilonia (2300 SM), yang dianggap sebagai penemu pertama peta, dengan teknologinya yang relatif “sederhana”, “hanya” mampu membuat peta yang “sederhana” pula. Masyarakat yang tinggal di kawasan Eufrat dan Tigris ini “hanya” mampu membuat peta dengan jalan menoreh/mengukir lempengan tanah yang dikeraskan. Rupa bumi yang dideskripsikan juga terbatas, hanya meliputi suatu bagian kecil kota atau wilayah, yang hanya mencakup sebagian wilayah pemukiman serta irigasi yang mereka miliki. Relatif terbatasnya rupa bumi yang mereka tampilkan, karena itulah “dunia” yang mereka kenal, dan sesungguhnya itulah “dunia” yang penting bagi mereka.
Yunani dan Romawi yang memiliki kebudayaan maju dan mengagumkan, yang banyak membuat bangunan besar dari batu atau marmar juga membuat peta dengan menggunakan bahan batu atau marmar. Sama dengan yang dilakukan pembuat peta Babilonia, peta Yunani dan Romawi ini juga ditorehkan/dipahatkan pada batu atau marmar. Di samping itu mereka juga melukis batu atau marmar tersebut. Salah satu peta buatan zaman klasik ini dikenal dengan sebutan marbel map atau puzzle map. Teknologi pembuatan peta pada batu dan marmar pasti jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan pembuatan peta pada tanah yang dikeringkan. Majunya teknologi pembuatan peta era Yunani dan Romawi juga terlihat dari ukuran peta yang dibuat. Informasi yang disajikan juga lebih lengkap. Dari satu marble map yang ditemukan, diketahui bahwa peta tersebut menggambarkan dengan cukup detil wajah kota Roma, seperti berbagai bangunan, jalan dan tangga yang ada di seantero kota tersebut pada abad ke-2 SM. Ukuran peta yang dibuat pada masa Yunani dan Romawi ini jauh lebih besar. Di samping teknologi yang telah maju, ilmu pengetahuan masa itu juga telah berkembang dengan pesat. Pengetahuan, dalam artian ilmu bumi telah tumbuh dan berkembang, bahkan ahlinya telah menghasilkan karya yang luar biasa. Salah satu di antaranya adalah Claudius Ptolomeus. Ilmuwan ini, tidak hanya sekedar ahli ilmu bumi, tetapi juga pembuat peta (kartografer) yang unggul. Dia termasuk salah seorang ilmuwan perintis atau peletak dasar pembuatan peta moderen. Dia berhasil membuat deskripsi atau gambaran atau ‘peta’ mengenai dunia. Namun “peta asli” sebagai buah tangan yang sesungguhnya dari ilmuwan yang hidup pada abad ke-2 M ini tidak pernah ditemukan. ‘Peta’ dunia itu dideskripsikan Ptolomeus dalam bukunya yang berjudul Geographia (ca. 150 SM). Dan peta yang dirancang Ptolomeus ini diwujudkan menjadi “peta yang sesungguhnya” pada abad ke-15 M.
Rupa bumi yang ditampilkan dalam peta Yunani/Romawi juga memperlihatkan “dunia” yang mereka kenal waktu itu. Di samping mendeskripsikan kota, “negara” atau “kerajaan” mereka sendiri, peta yang dihasilkan pada zaman tersebut juga telah menampilkan rupa bumi di kawasan yang jauh dari negeri mereka. Bahkan bila dicermati “peta dunia” karya Ptolomeus dapat dikatakan bahwa peta tersebut telah menampilkan sebagian dunia yang kita kenal dewasa ini (sampai ke India dan China serta Afrika). Hal ini bisa dimengerti, bahwa ilmu dan pengetahuan orang saat itu sudah jauh melampaui batas-batas teritorialnya. Persintuhan dan kontak mereka dengan orang luar telah demikian intensif saat itu.
Pada kurun waktu abad ke-6 hingga 14/15 M), atau pada masa Abad Pertengahan (dalam sejarah Eropa) dan pada era gilang gemilang (dalam peradaban dan kebudayaan Islam), teknologi pembuatan peta semakin maju. Kertas telah dipergunakan dan “coretan” atau “lukisan” pada kertas telah dilakukan. Di samping peta sebagai gambaran rupa bumi yang “sesungguhnya” juga dikembangkan peta model “denah”. Mutu peta sudah meningkat dengan sangat signifikan. Rupa bumi yang disajikan juga sudah demikian luas, “dunia” yang ditampilkan sudah meliputi sebagian besar dunia yang dikenal sekarang. Perkembangan yang sama tetap berlanjut pada periode-periode berikutnya, terutama sekali pada era moderen yang ditandai dengan penemuan berbagai alat pembuat peta serta mesin cetak. Wajah dunia yang ditampilkan pada era moderen ini, yang diawali dengan penemuan “dunia baru”, juga semakin luas dan utuh. Bagian bumi yang pada masa sebelumnya tidak pernah nampak dalam berbagai peta, seperti kawasan Amerika dan Australia mulai ditampilkan. Dan seiring dengan semakin tingginya kontak serta hubungan dengan dunia baru tersebut maka dunia yang sesungguhnya hadirlah sudah dalam peta. Perkembangan ini tetap berlanjut hingga saat sekarang, sesuai dengan yang kita lihat bersama.
Pada era Eropa/Amerika, Eropa/Amerika di pusat dunia
Sebagai produk kebudayaan, peta sebagaimana dia dilukiskan dan dideskripsikan tidak hanya menampilkan unsur ilmu, pengetahuan dan teknologi masyarakat pendukungnya, tetapi juga jiwa zaman dan latar belakang budaya serta politik yang berkembang pada saat peta tersebut dibuat. Setiap zaman melahirkan peta yang sesuai dengan “suasana batin” zaman yang bersangkutan. Setiap zaman juga melahiran peta yang sesuai dengan latar belakang budaya dan politik zaman tersebut.
“Regionalisme”, dalam artian daerah di mana peta dibuat adalah daerah yang paling hebat dan penting, merupakan salah satu ciri utama hadirnya semangat zaman dan adanya pengaruh budaya/politik dalam pembuatan sebuah peta. Ciri “regionalisme” ini diwujudkan dengan menempatkan daerah di mana peta itu dibuat pada posisi sentral peta. Peta yang dibuat pada Abad Pertengahan, suatu zaman sangat kental dengan aroma keagamaan (Kristen) telah melahirkan peta yang menempatkan pusat kelahiran agama itu pada posisi terpenting (pusat) peta dunia. Hal ini terlihat dengan sangat jelas pada peta T-O, seperti yang dirancang ilmuwan Isidores dari Sevilla pada abad ke-7 M. Dalam deskripsinya ini, sang ilmuwan menempatkan Jerusalem pada titik tengah peta, dan sebagaimana diketahui Jerusalem adalah kota terpenting dalam agama Kristen. Hal yang sama sebetulnya juga hadir pada peta yang dibuat oleh kartografer Islam, Al Idrisi misalnya. Dia menempatkan Arab pada titik tengah dari peta dunianya. Jiwa zaman yang menempatkan daerah pembuat peta pada posisi sentral tetap berlanjut pada masa-masa berikutnya. Pada “era awal Eropa”, orang Eropa menempatkan Eropa pada titik tengah peta dunia dan kecenderungan itu tetap berlanjut hingga saat sekarang. Di Amerika, kartografernya juga menempatkan benua tersebut pada posisi tengah peta dunia. Orang Asia, terutama China juga melakukan hal yang sama. Pada abad ke-18 dan 19 peta yang dibuat di negeri tersebut telah menempatkan China (Asia) pada posisi tengah peta dunia. Peta dunia yang semula dikembangkan di China inilah yang kemudian menjadi patokan (dasar) bagi peta-peta yang dibuat di kawasan Asia (terutama di kawasan Asia Timur dan Tenggara serta Selatan) dalam membuat peta dunia di negeri/negara mereka hingga saat sekarang. Karena itu, pada peta dunia yang lazim ditemukan di Indonesia atau kawasan sekitarnya senantiasa menempatkan Asia pada posisi tengahnya.

disadur dari blog direktorat seografi sejarah : Makalah disajikan pada kegiatan “Bimbingan Teknis Pemetaan Sejarah Tingkat Lanjut” Direktorat Geografi dan Sejarah, Direktorat Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Parwisata, di Puncak, Bogor, 23-28 Mei 2011.

Tidak ada komentar: